07 Agustus 2008

MENGAKSELERASI PERKEMBANGAN DUNIA INOVASI DI INDONESIA

posted by Ferry Andrianto

Inovasi terbuka dan inovasi berbasiskan pelanggan mutakhir- paradigma inovasi yang berakar dari logika kecerdasan kolektif (collective intelligence) - yang dipelopori oleh berbagai perusahaan dan pemikir dari Amerika Serikat dan Eropa telah mengubah wacana dan praktik inovasi di dunia Barat.Ada semacam paradoks di mana dunia Barat yang masyarakatnya 'individualis' ternyata lebih 'kolektif' dalam berinovasi daripada berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia, yang katanya masyarakatnya 'kolektif'.Kecerdasan kolektif telah menjadi topik penelitian multidisipliner, dari ilmu komputer, syaraf otak sampai ke manajemen/bisnis. Semut dan lebah adalah contoh dari organisme dengan kecerdasan terbatas, tetapi secara kolektif menjadi koloni yang lebih cerdas sehingga mampu bernavigasi mencari sumber makanan dan bertahan hidup.Bayangkan apa jadinya jika sekelompok manusia berinovasi melalui kecerdasan kolektif. Inilah tren terkini dalam berinovasi dan sedang hangat di Amerika dan Eropa.Di Uni Eropa, kini lebih dari 38 negara bergabung dalam jejaring inovasi terbuka yang bernama EUREKA.Jika dirunut kembali ke belakang, dari hasil investigasi ilmuwan teknologi manajemen dari University of California Davis Profesor Andrew Hargadon, ternyata berbagai inovasi teknologi penting, seperti bola lampu, transistor, kapal uap, dan lainnya adalah hasil dari kecerdasan kolektif bukan kecerdasan individu.Contoh serupa juga ditemukan di berbagai catatan sejarah inovasi teknologi lainnya. Bahkan, strategi inovasi ini kini juga mulai diadopsi oleh berbagai perusahaan kecil dan menengah (UKM) dari dunia Barat. Apa yang sedang terjadi?Mengapa dunia Barat yang notabene 'individualis' malah cenderung mudah dan cepat mengadopsi paradigma collective intelligence, seperti melalui open innovation dan lead user innovation daripada berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia, yang masyarakatnya 'kolektif'?Struktur sosial dan altruismeAda berbagai kondisi sosial yang perlu dicermati dalam konteks inovasi terbuka pada khususnya dan kecerdasan kolektif pada umumnya. Kecerdasan kolektif sangat dipengaruhi oleh keinginan para individu dan institusi untuk saling berkolaborasi, saling berbagi ilmu dan informasi dengan logika bahwa apa yang dibagi dapat bermanfaat buat yang membagi dan yang menerima melalui proses interaksi dan dialog.Tentu ini sangat kondusif untuk negara yang masyarakatnya punya rasa saling percaya yang tinggi. Ini juga membutuhkan adanya rasa altruisme - sifat tidak egois demi kesejahteraan orang lain/orang banyak - suatu ciri khas yang sering ditemukan pada koloni organisme yang cenderung unggul dan dapat bertahan hidup dengan baik.Kedua, ada struktur sosial yang mendukung kebebasan berpikir dari para anggota masyarakatnya sehingga ide yang beragam dan orisinal bisa muncul. Pada dasarnya, ini dapat tercipta dari sistem demokrasi yang sehat dan baik.Kombinasi dari faktor-faktor di atas dengan sendirinya menghilangkan ide-ide yang inferior dan gabungan dari ide-ide yang terseleksi secara natural menciptakan ide ide yang lebih cemerlang - yang lebih cerdas daripada ide ide tersebut secara terpisah.Meminjam istilah Selfish Gene-nya ilmuwan Richard Dawkin, struktur sosial berpengaruh terhadap 'gen' dan 'mem' (meme: unit budaya/ide yang membawa sifat khas gen yang terkait) yang dapat mendukung dan menghambat kapasitas kreativitas dan kecerdasan kolektif (creative and collective intelligence).Ala Nusantara?Sejak di sekolah dasar setiap individu di Indonesia telah mengenal konsep 'bersatu kita teguh bercerai kita runtuh', 'berbeda tetapi tetap satu', dan 'gotong royong' yang sebenarnya adalah bahasa lain dari konsep kecerdasan kolektif.Memang luar biasa, sejak tahun 40-an konsep ini telah ada di Nusantara - terima kasih buat para proklamator kita (dan para komunitas koleganya!). Sayangnya, konsep dan praktik ini semakin hari semakin hilang dari struktur sosial di Indonesia dan semakin pudar begitu anak-anak kecil beranjak dewasa.Padahal, ini adalah modal awal buat Indonesia untuk bangkit kembali dari keterpurukan ekonomi pascakrisis finansial Asia dan untuk mempercepat perkembangan inovasi dan memperkuat sistem ketahanan ekonomi nasional pada era global.Ada baiknya kita waspada terhadap budaya "kiasu" - anti tesis dari altruisme - seperti yang tumbuh pesat di Singapura dan berbagai negara di Asia lainnya dalam label yang berbeda. Di berbagai film silat, sering pula kita lihat para guru silat yang hanya mengajarkan 9 dari 10 ilmu yang dimilikinya - karena 'takut kalah'.Padahal, dengan terus berinovasi, si guru silat tidak perlu takut kalah karena bisa terus menghasilkan banyak jurus baru terus menerus. Metafora ini relevan buat berbagai profesi dan bidang, termasuk sains dan teknologi serta ilmu sosial.Walaupun beberapa contoh ini telah kedaluwarsa, tetapi ini masih membekas di berbagai negara di Asia dalam berbagai segi kehidupan, termasuk dalam hal inovasi teknologi karena faktor path dependency (kecenderungan sesuatu hal untuk tetap bertahan pada kondisi sebelumnya).Akibatnya, bisa terjadi kemandekan bahkan penurunan daya inovasi. Akibatnya tidak mengejutkan jika right to copy lebih populer dari pada copy right di berbagai penjuru di Asia.Saatnya telah tiba buat berbagai pihak terkait di Indonesia untuk menciptakan dan memfasilitasi komunitas inovasi dari para individu yang tersebar di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan perusahaan kecil menengah sampai ke perusahaan besar di penjuru Nusantara - alias menciptakan 'otak kolektif' dan mengupayakan agar para individu dan komunitasnya diperkuat agar muncul ke permukaan dan menjadi tulang punggung dunia inovasi dan ekonomi nasional.Tentu saja insentif finansial sangat diperlukan untuk memotivasi para individu individu ini agar muncul dan bertahan dan menjadi idola untuk menghasilkan banyak idola/komunitas idola lainnya.

Belum ada komentar untuk MENGAKSELERASI PERKEMBANGAN DUNIA INOVASI DI INDONESIA

Add A Comment

Note: Comment untuk tulisan ini tidak diperkenankan format html