07 Agustus 2008

Nyanyian Keabadian

posted by Ferry Andrianto

Budi hanya tertegun sementara nafasnya masih menyisa dengus yang tak tertahan. Tadi ia hampir saja dijemput ajal. Entah penguasa siapa yang masih mengijinkan ia tetap bisa bernafas-nafas, tapi yang jelas dia itu, yakni siapa saja yang berkuasa itu, punya alasan khusus untuk tetap membuatnya menapak tanah di atas kaki menjunjung onggokan daging yang gelantungan pada belulang berbungkus kulit hitam legam.

Siapakah kau penguasa alam jagad raya. Ia mengguman, menanyai dirinya sendiri, sembari berharap itu juga adalah doa kepada si empunya nafas manusia. Siapa…?
Lalu akhirnya ia sendiri berteriak, “Siapaaaaaa…!?”
Tentu ia tidak sedang menanyakan kepada orang-orang yang sedang terperangah di sekitarnya. Dan kalaupun ia menannyakannya, orang-orang itu mungkin akan menjawab seenak jidat tanpa mempertimbangkan faktor-faktor emosional dalam kegaiban seperti yang baru saja ia alami. Sebenarnya kejadiannya sederhana saja. Ia hampir saja kehilangan nyawanya dan tiba-tiba ia merasa diselamatkan oleh entah siapa yang datang dari dunia luar. Karena secara manusia biasa yang mendiami planet usang ini, tentulah hal sedemikian tak dapat diperbuatnya.
Kini pikirannya hanya tertuju pada peluang dan kemungkinan.
Mungkin saja saat saya menulis artikel ini, saya sudah tidak lagi bersama kalian menciumi asap polusi kota, mendengar ceramah dan khotbah di temat ibadah, berjalan di sepanjang jalan Malioboro. Tidur di emperan toko, gelimpang di ranjang pelacur, atau sedang memancing ikan di laut pasifik. Tapi yang jelas peluang itu semua pasti hilang bersama semua kemungkinan yang lebur dalam ketiadaan “ada”.
Sebenarnya pedang terhunus di belakang leher, telah siap menebas habis anasir kehidupan. Lelaki algojo berkumis, kepala botak, matanya merah karena kepayahan mabuk, dan bau mulutnya menyembur aroma amis mirip mayat yang membusuk. Ruangan dengan lampu minyak, telah memberi cahaya yang ragu-ragu di seluruh ruang bertembok bambu. Aku baru sadar bahwa sejak tadi siuman, kalau ternyata aku sedang tidak tertidur di kasur empuk, di kamar yang wangi dan dingin. Pada tembok lukisan Che Guevara dan bendera Timnas Inggris bertulis union jack dengan garis-garis vertical, horizontal, dan diagonal saling menyilang. Di titik persilangan itu bergambar tiga malaikat naga. Entah binatang apa itu namanya.
Tak ada rak-rak buku di kamar sini. Mereka mungkin tak pernah membaca, hingga dapat dipastikan peradabannya pasti rendah. Aku baru tahu dari tadi kalau kedua kakiku pula diborgol sehingga percuma saja aku merencanakan untuk mengambil langkah seribu. Lagi pula pintu itu terkunci mati. Hampir tak ada celah yang bisa ditembus. Sementara cahaya malu-malu lampu minyak memberikan bentuk kepada asap rokok yang terperangkap liar di ruangan ini menjadi bentuk pertunjukan yang sangat menarik. Asap rokok itu menari-nari di depan hidungku. Aku menahan nafas agar jangan aku jadi perokok pasif. Tapi asap-asap itu kian laun menggodai aku. Ia mendekati wajahku yang makin kaku, dingin, pucat-pasi. Dan aku lalu meniup sekencang-kecang asap rokok itu biar ia pergi. Sayang, setiap kali aku melakukannya semakin asap itu menuju dan menyerbu ke arahku. Baru aku hendak bergeser menjauh dari serbuan asap itu, lalu aku menyadari bahwa badanku ternyata juga tidak bisa bergerak. Tanganku terikat kuat di kursi vonis.
”Kau tak suka merokok?” Ia lalu terbahak. Dan dari tawa-tawanya itu menyembur pula campuran air ludah, nafas, dan asap.
”Takut merusak kesehatan?” Sekali lagi terbahak-bahak. Suaranya penuh di ruangan dan hampir tak punya tempat lagi di segenap ruangan hingga pasti suaranya menyeruak keluar.
”Toh sekarang pun kau akan mati. Jadi merokoklah barang sebatang.”
Diambilnya sebatang rokok lalu disodorkannya ke arahku. Aku masih diam. Sadar bahwa aku ternyata sedang dicekal semua kebebasan tubuhku, lalu ia mengguman, “Oh iya,” lalu ia pun mengambilkan sebatang dan dengan ramahnya ia memasukkannya pada mulutku yang masih terkatub. Sebuah pemantik menyala dan menyulut terbakar rokok yang telah terapit di sela-sela bibirku.
Tak ada pilihan. Algojo ini pun tampaknya benar. Sebentar lagi aku akan dieksekusi mati. Buat apa aku menyesali lagi soal kesehatan. Soal nikotin, tar, dan tetek bengek racun yang merusak kesehatan. Untuk pertama kali aku akan merokok lagi selama lima tahun terakhir. Pernah aku telah memutuskan untuk tidak merokok setelah mendengar seminar kesehatan suatu ketika. Dan untuk setahun lamanya aku berjuang menghentikan kebiasaan yang mencandu itu. Hingga aku di vonis dokter akan meninggal karena kangker paru-paru.
Baru setelah vonis dokter itulah, aku mulai berhenti lagi merokok. Waktu singkat yang dikatakan dokter membuat aku makin rajin mempertebal iman. Semua kebaikan dan kebajikan kukerjakan untuk nanti bersiap-siap bila kelak aku mati, malaikat gibrael akan sedia mengantarku ke Surga. Dan aku makin melupakan penyakit kanker itu. Hingga tanpa sadar deadline hari kematianku, terlewat hingga aku datang lagi check up dan dokter mengatakan bahwa keajaiban telah terjadi. Kanker itu sama sekali telah hilang. Aku sudah sembuh total.
Dan semakinlah aku merasakan kebaikan dari sang penguasa itu bila aku makin berbuat baik. Aku bahkan mulai aktif mengunjungi panti-panti asuhan, rumah sakit, dan terakhir aku mendirikan sebuah panti rehabilitasi narkoba dan yayasan kanker, setelah mendapat sumbangan dari seorang donatur yang sevisi denganku. Aku pun menjadi sangat bermoral, dan menjadi militan membela kaum lemah dan korban. Para anak-anak terlantar dan kaum miskin kota yang sangat memprihatinkan mengenalku dengan baik.
Kami bersama pernah melakukan demo kepada Gurbernur DKI untuk memperjuangkan kawasan pemukiman bagi para tuna wisma.
Selain itu, aku pula makin giat dalam lembaga-lembaga NGO yang semua memprotes kebijakan pemerintah yang tidak berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil. Para pemerintah olehku, dicap monster-monster moral. Karena mereka, menurutku, adalah para badut-badut moralis yang hanya mengkesploitasi masyarakat kecil untuk selera dan kepentingan politiknya. Tak punya sense of crisis, tapi selalu saja berbicara tentang managemen krisis. Aku muak dengan segala retorika itu, lalu suatu saat aku pun menggalang masa untuk menggulingkan pemerintah. Dalam tuntutan kami, beberapa poin telah menyebabkan aku terpaksa diseret kepengadilan. Yakni, turunkan pemerintah yang berkuasa, hentikan klaim wakil rakyat yang kerjanya mengisap rakyat.
Aku pun diadili. Baru aku sadar semuanya hanyalah sandiwara belaka setelah pengacaraku, hakim, dan jaksa, tertawa-tawa, terbahak-bahak, setelah persidangan yang digelar memvonis aku dihukum mati.
Tentu aku merontah-rontah. Aku tak bisa terima. Ini adalah penghianatan kepada kemanusiaan itu. Yang aku bela adalah rakyat kecil. Tapi sehabis perkaraku diputus, mereka hanya melangkah ringan meninggalkan ruang sidang dan kembali lagi menggelandang. Para aktivis yang tadinya mengamatiku dari jauh, melalui siaran relay beberapa stasiun televisi swasta serentak menjadi menghujatku. Tak ada pembelaan sama sekali. Mereka tiba-tiba menjadi satu paduan suara yang seirama mendayu-dayu melagukan mars yang bersepakat dengan absolutisme, totaliter, korup, dan semua kebobrokan penguasa.
Aku sadari pula kalau sudah dari awal, hanyalah aku yang menyanyikan lagu itu, dan mereka menilai aku telah menyanyikan lagu yang fals. Sampai semuanya harus berakhir tragis. Hukuman mati.
Di sini aku harus coba menerima lagi semua kenyataan seperti ketika dulu aku divonis mati oleh dokter. Rokok yang tak kuhisap itu kembali meredup bara apinya. Si algojo kembali menyalakan.
“Percuma saja. Keyakinan itu toh sebentar lagi lenyap bersama dengan ayunan pedang ini.”
Asap rokok kembali menyengat. Dan karenanya rokok itu segera kuludahkan ke lantai. Mata algojo itu menjadi sangat merah, menyala. Gigi-giginya gemeretak. Kumisnya bergerak-gerak ke atas. Mungkin karena bibir-bibirnya mengerucut hasil kerja saraf motorik. Dia jelas marah. Dan semakin jelas keyakinanku kalau ia memang sangat marah, karena pedangnya segera diangkatnya tinggi-tinggi dan di kekekaran otot-otot tubuh dan lengannya nampaklah aku, nasib tragis dalam sekali ayunan tangannya yang dalam genggaman kuatnya, sebuah pedang eksekusi terhunus bengis.
Dan melihat matanya yang merah, tingkahnya yang makin menampak rendahnya keberadaban manusia yang bergelar algojo itu, aku pun lebih baik menutup mata saja. Menunggu ajal, dan memasrahkan jiwa.
Tak lagi aku mengingat-ingat kegunaan hidup. Toh sebentar lagi aku meninggal. Mati. Titik. Buat apa lagi aku harus peduli lagi dengan korupsi, tentang kesewenangan, tentang ketidakadilan, tentang impunity. Ah, aku sekali lagi hanya harus pasrah saja lagi.
Di saat seperti itu, yang paling enak adalah memikirkan tentang keindahan. Ya tentang kedamaian. Kedamaian yang kudapat dari canda tawa dengan para penggelandang yang tak berumah. Dari suara-suara tangis yang meredup setelah sebungkus nasi kusodor sekedar mengganjal perut detik itu. Kedamaian dari suara-suara seruak para demonstran yang bubar dengan kekecewaan dan berjanji untuk esok akan kembali ke jalan dan berdemo lagi. Dan bila esok mereka tidak berdemo, seseorang memberitahuku kalau ada seorang yang memberi uang sedikit saja untuk menundah sebentar demonya selagi ada kunjungan dubes negara tetangga.
Aku menjadi sangat bahagia bila mengingat, bila seharian aku capek mengurusi panti rehabilitasi dan seorang dari mereka yang sembuh datang menjengukku sambil membawa calon istri atau calon suami sambil menyodorkan undangan. “Kami akan kawin dan hidup wajar saja.”
Bersama semua kebahagiaan itu kini menjadi klimaks berturut-turut tanpa henti menyinggahi bahkan menggagahi ruang-ruang kesadaranku. Kesadaran atas arti kehidupan yang sementara ini sifatnya. Untuk itu, apalah artinya mati. Apalah artinya gemetar dengan ayunan tangan si algojo yang telah kutelaah sedari tadi, memang kurang dalam keberadabaannya. Tapi apalah arti pula menghakiminya hanya dengan kekurangannya sebagai seorang manusia yang tak berakhlak itu. Ia toh juga hanya sebagai algojo yang menjalankan perintah. Mereka yang seperti algojo ini hanyalah wayang-wayang yang dimainkan bebas dan leluasa, tergantung skenario dan jalan cerita dari sang dalang yang sutradara itu.
Bukankah sebaiknya aku tersenyum saja, sambil menikmati semua keindahan suasana ini. Biarlah aku buka mata saja, selebar-lebarnya untuk memandang sisa-sisa dunia yang akan kulihat hanya sebentar lagi. Dunia yang kini selebar ruangan ini. Di mana aku sebagai, oleh mereka disebut penjahat, dan si algojonya yang oleh mereka disebut loyalis, anak manis, dan ribuan lagi gelarnya.
Matanya kutatapi. Dengan senyum aku mencari-cari semua keduniaan yang akan kutinggali segera setelah ayunan tangannya. Lalu tiba-tiba gelegar suara tembakan menyentakku dalam senyuman itu. Si algojo ditembak. Ia terkulai mati.
Dan, seseorang bertopeng itu datang membuka semua simpul yang melilit kebebasan tubuhku. Seketika aku terbebas dari rantai-rantai besi itu, ia sudah menghilang. Berlalu pada arah angin datang dan pergi. Aku lalu mencari-cari bayang hitam si penolong itu, tapi tak jua aku temui bahkan jejak langkahnya pun.
Aku terus berjalan sampai di kota. Dan tak juga aku menemunkannya. Di kota ini bahkan orang-orangnya pun aku tak kenal. Entah di mana saja kota ini di dalam peta kehidupan. Tapi sepertinya ini adalah kota yang baru. Kota yang tidak terjadi semua yang dinamakan kejahatan. Penduduknya ramah. Semua menyelenggarakan kehidupan yang normal-normal saja. Hingga akupun jadi marah. Semarah-marahnya, juga kepada si pahlawan bertopeng yang sok penguasa itu karena membebaskan aku dari kepahlawananku.
Aku tentu tidak akan dikenang orang sebagai pahlawan. Karena di sini semua orangnya menyanyi dengan choir yang sama. Aku juga bisa menyanyikannya dengan tidak fals. Aneh, tapi sangat kusuka. Nyanyian keabadian di tepi laut kaca.


Belum ada komentar untuk Nyanyian Keabadian

Add A Comment

Note: Comment untuk tulisan ini tidak diperkenankan format html